Yayasan AR. Baswedan Gelar Pelatihan Jurnalistik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Erwan dalam pelatihan ini fokus pada materi mengenai bagaimana seorang wartawan melakukan peliputan dan menuliskannya menjadi berita. Tidak setiap fakta itu berita, lanjutnya, ada syarat tertentu yang membuat satu fakta menjadi berita.

“Berita bukan fakta, berita itu laporan tentang fakta. Suatu peristiwa menjadi berita hanya apabila ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan,”jelas Erwan Widyarto jurnalis senior yang juga mantan wartawan Jawa Pos.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi dalam pelatihan dasar jurnalistik yang diselenggarakan Yayasan AR. Baswedan pada Sabtu, (3/8/2019) di Sekretariat Yayasan AR. Baswedan Perumahan Timoho Asri IV, No. B9C, Yogyakarta. Selain Erwan, hadir pula sebagai pembicara Yona Wahyudi praktisi televisi.

Erwan dalam pelatihan ini fokus pada materi mengenai bagaimana seorang wartawan melakukan peliputan dan menuliskannya menjadi berita. Tidak setiap fakta itu berita, lanjutnya, ada syarat tertentu yang membuat satu fakta menjadi berita.  Untuk itu setiap jurnalis harus mengasah ketajamannya akan berita. “Meningkatkan ’rasa berita,’ agar dapat memilih mana fakta yang menarik dan mana yang kurang menarik untuk ditulis menjadi sebuah berita,” ujarnya.

Ketua Jogja Editor Forum ini mengatakan sebuah fakta menarik dan penting untuk menjadi sebuah berita dapat diukur melalui nilai berita. “Nilai berita adalah seperangkat kriteria untuk menilai apakah sebuah kejadian cukup penting untuk diliput atau diwartakan,” jelas Erwan, di depan 40 peserta yang ikut dalam pelatihan.

Ketika sudah menetapkan apa yang ingin ditulis menjadi sebuah berita, maka proses peliputan, dapat dilakukan dengan tiga metode yakni observasi lapangan, wawancara dan studi pustaka. “Setalah mendapatkan data lapangan, berita dapat ditulis melalui berbagai jenis, ada straignews, ada softnews dan feature,” jelas penulis buku Produktif Sampai Mati, ini.

Saat ini dengan perkembangan teknologi, setiap orang bisa menjadi jurnalis. Sehingga karya-karya jurnalistik kita dapat dipublikasikan melalui berbagai saluran, baik sosial media, blog, atau kanal-kanal yang disediakan oleh media-media mainstream online, contohnya Kompasiana. “Teman-teman dengan gayamu sendiri, lewat akunmu sendiri, dapat menyebarkan peristiwa kepada kawan-kawan,” ujar Erwan.

Yayasan AR. Baswedan rutin menyelenggarakan pelatihan maupun diskusi-diskusi di Sekretariat. Walau dengan penuh kesederhanaan, peserta duduk lesehan, namun tetap dengan semangat yang tinggi. Hal ini tentu saja tak lepas dari narasumber yang penuh dedikasi, mewakafkan ilmu yang dimilikinya.

Redaksi

Redaksi

Terbaru

Ikuti